Selasa, 28 Oktober 2014

SI BINGUNG (eps 1)

Pada suatu hari, hiduplah seorang suami istri dengan latar belakang yang berbeda. Suami adalah seorang perantau dari desa. Ia adalah seorang anak dari buruh tani di desanya, mempunyai dua kakak perempuan, dua adik perempuan dan dua adik laki-laki.

Semasa kecil ia adalah seorang pekerja keras, tidak sungkan untuk membantu bapaknya menjadi buruh tani. Ketika pulang sekolah ia pun tidak malu untuk membantu ibunya mencari kayu bakar di hutan guna memasak makanan sehari-hari. Walaupun tidak jarang ia kadang bertemu dengan hewan buas didalamnya. Semua ia lakukan dengan ikhlas untuk kepentingan keluarganya.

Di sekolah ia tak jarang di ejek temannya karena sepatu yang digunakan sudah lusuh dan bolong-bolong. Hal itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan mencapai cita-cita yang diimpikan. Setelah lulus SMEA(sederajat SMA) ia pun mendapat tawaran dari tetangganya yang bekerja di Jakarta. Di Jakarta ia bekerja sebagai juru ketik di kantornya. Meskipun sudah mendapat pekerjaan ia tidak sungkan untuk turut membersihkan rumahnya.

Setelah beberapa bulan, ia mengambil keputusan untuk terus melanjutkan pendidikannya dengan hasil keringat dari pekerjaannya itu. Akhirnya ia pun kuliah sampai jenjang Sarjana Strata 1, secara otomatis pun jabatan pekerjaan yang ia posisikan berubah hingga ia melanjutkan studinya ke jenjang S2. Kini pun ia sudah bisa dikatakan menjadi orang yang mampu khususnya dalam segi financial.

Istri adalah seorang anak dari keluarga mampu di Ibu Kota Jakarta. Ayahnya seorang pedagang kain tenun batik di salah satu pasar terkemuka Jakarta. Pada masanya keluarganya adalah orang yang eksklusif. Seiring dengan perkembangan zaman kain batik menjadi semakin murah karena produksinya menggunakan mesin modern. Usaha ayahnya pun terancam gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan kompetitor.

Setelah bangkrut mereka pun pindah ke daerah Bekasi. Hingga kini rumahnya masih berdiri tegak meskipun sudah harus banyak yang direnovasi. Pada saat ini jugalah keluarga istri yang tadinya hidup dalam keadaan serba elite menjadi biasa-biasa saja. Ia pun tidak surut semangatnya dengan mengabdikan diri sebagai guru mengaji dilingkungannya, dan mengambil sekolah pendidikan guru untuk menunjang profesinya tersebut.

Mereka berdua dipertemukan dengan cara yang tidak disengaja, yaitu melalui telepon nyasar. Berawal ketika sang istri menelpon ke kantornya untuk berbicara dengan seseorang yang tidak lain adalah tetangga dari istri. Ketika itu pas kebetulan yang mengangkat adalah sang suami. Setelah menjelaskan bahwa yang bersangkutan tidak ada ditempat, telepon pun ditutup kembali. Lantas sang suami menyampaikan pesan kepada rekannya.

Pada saat itu pulalah sang rekan tersebut menjelaskan tentang profil si penelpon. Dan ternyata si suami sedang mencari calon istri yang demikian. Akhirnya ia dan temannya membuat skenario pertemuan untuk keduanya. Dengan menggunakan mobil jeep pinjaman kantor keduanya mendatangi rumah sang istri untuk mengajak jalan-jalan ke Monumen Nasional. Akhirnya mereka pun saling berkenalan satu sama lain dan menikah.