Pada suatu hari, hiduplah seorang suami istri dengan latar belakang yang
berbeda. Suami adalah seorang perantau dari desa. Ia adalah seorang anak dari
buruh tani di desanya, mempunyai dua kakak perempuan, dua adik perempuan dan
dua adik laki-laki.
Semasa kecil ia adalah seorang pekerja keras, tidak sungkan untuk membantu
bapaknya menjadi buruh tani. Ketika pulang sekolah ia pun tidak malu untuk
membantu ibunya mencari kayu bakar di hutan guna memasak makanan sehari-hari.
Walaupun tidak jarang ia kadang bertemu dengan hewan buas didalamnya. Semua ia
lakukan dengan ikhlas untuk kepentingan keluarganya.
Di sekolah ia tak jarang
di ejek temannya karena sepatu yang digunakan sudah lusuh dan
bolong-bolong. Hal itu tidak menyurutkan
semangatnya untuk terus belajar dan mencapai cita-cita yang diimpikan. Setelah lulus
SMEA(sederajat SMA) ia pun mendapat tawaran dari tetangganya yang bekerja di
Jakarta. Di Jakarta ia bekerja sebagai juru ketik di kantornya. Meskipun sudah
mendapat pekerjaan ia tidak sungkan untuk turut membersihkan rumahnya.
Setelah beberapa
bulan, ia mengambil keputusan untuk terus melanjutkan pendidikannya dengan
hasil keringat dari pekerjaannya itu. Akhirnya ia pun kuliah sampai jenjang
Sarjana Strata 1, secara otomatis pun jabatan pekerjaan yang ia posisikan
berubah hingga ia melanjutkan studinya ke jenjang S2. Kini pun ia sudah bisa
dikatakan menjadi orang yang mampu khususnya dalam segi financial.
Istri adalah seorang
anak dari keluarga mampu di Ibu Kota Jakarta. Ayahnya seorang pedagang kain tenun
batik di salah satu pasar terkemuka Jakarta. Pada masanya keluarganya adalah
orang yang eksklusif. Seiring dengan perkembangan zaman kain batik menjadi
semakin murah karena produksinya menggunakan mesin modern. Usaha ayahnya pun
terancam gulung tikar karena tidak mampu bersaing dengan kompetitor.
Setelah bangkrut
mereka pun pindah ke daerah Bekasi. Hingga kini rumahnya masih berdiri tegak
meskipun sudah harus banyak yang direnovasi. Pada saat ini jugalah keluarga
istri yang tadinya hidup dalam keadaan serba elite menjadi biasa-biasa saja. Ia
pun tidak surut semangatnya dengan mengabdikan diri sebagai guru mengaji
dilingkungannya, dan mengambil sekolah pendidikan guru untuk menunjang
profesinya tersebut.
Mereka berdua
dipertemukan dengan cara yang tidak disengaja, yaitu
melalui telepon nyasar. Berawal ketika sang istri menelpon ke kantornya untuk
berbicara dengan seseorang yang tidak lain adalah tetangga dari istri. Ketika itu
pas kebetulan yang mengangkat adalah sang suami. Setelah menjelaskan bahwa yang
bersangkutan tidak ada ditempat, telepon pun ditutup kembali. Lantas sang suami
menyampaikan pesan kepada rekannya.
Pada saat itu
pulalah sang rekan tersebut menjelaskan tentang profil si penelpon. Dan ternyata
si suami sedang mencari calon istri yang demikian. Akhirnya ia dan temannya
membuat skenario pertemuan untuk keduanya. Dengan menggunakan
mobil jeep pinjaman kantor keduanya mendatangi rumah sang istri untuk mengajak
jalan-jalan ke Monumen Nasional. Akhirnya mereka pun saling berkenalan satu
sama lain dan menikah.