Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh...
Hai jumpa lagi dengan saya Fian. Dalam acara tahadus binni’mah. Apa sih
tahaddus binni’mah itu? Tahaddus binni’mah adalah pembicaraan ringan yang
bersifat santai. Tema yang dibahas biasanya seputar kehidupan sehari-hari.
Pada kali saya akan membahas tentang diri saya sendiri, khusus kejadian
yang baru saya alami. Berkenaan dengan kisah cinta saya dengan seseorang wanita
yang menarik hati saya, namun tidak sesuai dengan pilihan Allah. Kenapa tidak
sesuai dengan pilihan Allah? Karena gadis yang saya cintai ini sudah ada yang
memiliki.
Awal kisah, saya dan gadis adalah sama-sama berprofesi sebagai guru ngaji
di suatu musholla. Di perjumpaan pertama, saya dengan si gadis adalah orang
yang biasa biasa saja. Namun seiring perjalanan waktu, timbullah rasa suka saya
kepadanya. Gadis ini seolah tidak memperdulikan saya. Dia hanya terfokus untuk
terus mengajari anak-anak mengaji. Pernah suatu ketika saya bertanya kepadanya
tentang status cintanya. Apakah si gadis sudah ada yang punya atau belum? Jawabannya
adalah “diam”. Dilihat dari segi agama, diamnya seorang perempuan adalah
jawaban “iya” nya. Tapi yang saya lihat darinya bukan iyanya. Melainkan sifatnya
seolah acuh tak acuh kepada saya. Lantas saya mulai timbul rasa penasaran. Ada apakah
gerangan?
Ternyata setelah kurang lebih 2-3 tahun kemudian, ketika rasa sayang saya
kepadanya begitu besar. Dan saya pun berusaha untuk memastikan diamnya si gadis
selama ini. Tepat pada hari kemarin saya mendapatkan jawabannya. Si gadis sudah
ada yang punya, ia berpacaran dengan seorang pria yang sampai saat ini saya
belum tahu sosok dari pria tersebut.
Hati saya pun senang membaca pengakuan si gadis tentang hubungannya saat
ini. Dari pengakuan tersebut juga, terbukalah mengapa sikapnya selama ini ke
saya begitu dingin bahkan acuh tak acuh. Maksud dari si gadis dengan sikapnya
yang demikian adalah untuk memalingkan perhatiannya kepada saya sehingga saya
tidak suka dengannya dan memilih gadis lain untuk dicintai.
Niat dari si gadis adalah ingin menjaga perasaan hati saya agar tidak sakit
hati. Namun pandangan saya cenderung berbeda, justru saya senang kalau ketika saya
bertanya tentang status cintanya pada saat itu dijawab, maka saya pun tidak
akan pernah mengganggunya apalagi terus menerus menyimpan rasa cinta ini.
Yang unik dari si gadis adalah ekspresi acuh tak acuhnya seperti pemeran antagonis
di film-film. Hal ini terkadang membuat saya jadi tertawa sendiri. Saya pun
ketika ia mengeluarkan ekspresi tersebut berhati-hati takut juga ikut
menyinggung perasaannya.
Dari kisah saya kali ini, saya berperdapat bahwasanya tidak semua yang
dianggap baik untuk hati dengan cara diam bermaksud menjaga perasaan orang itu
adalah baik. Tetapi dengan berkomunikasi itulah yang baik menjadi lebih baik
dan yang kurang baik menjadi baik.
Demikian kisah nyata saya kali ini, semoga pembaca dapat mengambil hikmah
dari cerita ini.
Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh..